Berita Hukum

ASPEK HUKUM KEANEKARAGAMAN HAYATI

Senin, 2016-04-11 oleh :hukum

“Berbicara hukum tidak melulu membahas peraturan perundang-undangangan maupun perjanjanjian kerja sama semata. Hukum harus mampu melihat ilmu pengetahuan dari aspek hukum sendiri”

Pernyataan tersebut disampaikan Nur Tri Aries, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI dalam salah satu kesempatan kegiatan In House Legal Training, Jum’at, 8 April 2016 di Kampus LIPI Cibinong dengan mengangkat tema Implementasi Convention On Biodiversity dan Protokol Nagoya Untuk Perlindungan Keanekaragaman Hayati.

In House Legal Training (IHLT) merupakan sebuah forum peningkatan kapasitas keilmuan Bagian Hukum BKHH LIPI untuk mendalami ilmu-ilmu di luar ilmu hukum namun masih terkait dengan Tugas, Fungsi, dan Wewenang BKHH LIPI. Ilmu tersebut tentu sangat banyak sekali, tetapi pada kesempatan ini BKHH LIPI lebih fokus kepada keilmuan dibidang keanekaragaman hayati.

IHLT dihadiri 21 peserta yang terdiri dari staf bagian hukum BKHH LIPI sendiri ditambah dengan sarjana hukum pada satuan kerja lain di bawah LIPI. Sementara untuk narasumber diisi oleh yakni Prof. Endang Sukara, Prof. Rosichon Ubaidillah, dan Dr. Ahmad Dinoto dari LIPI, serta Dr. Ir Maman Turjaman dari kementerian Lingkungan Hudup dan Kehutanan.

dengan pendalaman keilmuan di bidang keanekaragaman hayati ini, diharapkan peserta mampu merespon perkembangan keanekaragaman hayati dari aspek hukum”, ucap Nur Tri. “seperti perkembangan MTA (material transfer agreement) dan RUU Konservasi”, tambahnya.

CONVENTION ON BIODIVERSITY DEVELOPMENT DAN NAGOYA PROTOCOL

Keberadaan Convention on Biodiversity Development (CBD) dan Nagoya Protocol tidak terlepas dari kesadaran bersama secara internasional tentang Perubahan Iklim dan pentingnya perlindungan terhadap keanekaragaman hayati. Kesadaran bersama ini kemudian diwujudkan dengan komitmen bersama untuk menyepakati langkah-langkah untuk merespon perubahan iklim dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati secara nasional. CBD kemudian diratifikasi melalui Undang-undang nomor 5 tahun 1994 tentang Pengesahan United Nation Convention on Bioligical Diversity. Sementara Nagoya Protokol diratifikasi melalui Undang-undang nomor 11 tahun 13 tentang Pengesahan Nagoya Protocal on Acces to Genetic Resourches and the fair and Equitalbe sharing of benefits arising from their utilization to the convention on Biological Diversity.

Dari segi hukum internasional, hukum internasional tersebut tidak berlaku atau tidak memiliki dampak hukum kecuali negara tersebut mengakuinya. Sarana pengakuan tersebut adalah dengan mengadopsi atau mensahkannya sebagai hukum nasional melalui proses ratifikasi.

Prof. Rosichon berpandangan, langkah Indonesia untuk segera ikut meratifikasi CBD dan Nagoya sudah tepat, namun yang belum dilakukan hingga saat ini adalah paska ratifikasi tersebut. Pemerintah belum secara maksimal mempersiapkan instrumen pendukung, termasuk di dalamnya menyiapkan strategi kebijakan nasional terkait dengan Access Benefit Sharing (ABS). “dan Lipi seharusnya bisa mengambil peran sebagai focal point untuk Access Benefit Sharing Sumber Daya Genetik”, ucap Rosichon.

Prof. Endang sukara menyampaikan hal lain di luar ABS yang menjadi pekerjaan rumah bagi LIPI adalah terkait dengan penerimaan pembagian keuntungan dari bagi hasil penelitian, misalnya seperti royalti. “dalam pelaksanaan kerja sama penelitian, LIPI sering kali mengedepankan pembagian keuntungan kepada mitra jika terjadi komersialisasi, namun saat keuntungan itu akan diperoleh, LIPI kesulitan menerimanya karena terbentur dengan regulasi yang ada”, tandasnya.

 

InaCC LIPI

Indonesian Culture Collection (InaCC) LIPI merupakan pusat depositori nasional biakan mikroorganisme yang dikelola oleh Bidang Mikrobiologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI. InaCC menyimpan biakan hidup mikroorganisme meliputi kapang, khamir, bakteri, aktinomisetes, arkea, mikroalga dan bakteriofag yang memiliki informasi taksonomi penting dan karakter fisiologi terkait aktivitas meliputi bioproses pangan, kesehatan, pestisida, pupuk dan bioremediasi yang bermanfaat untuk peningkatan kesejahteraan manusia.

Dr. Achmad Dinoto, Kepala Bidang Mikrobiologi LIPI menyampaikan InaCC juga memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan sumber daya hayati di Indonesia, “yakni dalam menjaga SDH dari perubahan iklim, kehilangan sumber daya mikroorganisme yang telah dilakukan penelitian, keterbatasan referensi mikroorganisme, serta sulitnya pelacakan sumber daya mikroorganisme”.

Selain mendapatkan materi tentang Keanekaragaman Hayati, Peserta juga diarahkan untuk melakukan kunjungan ke Ruang Penyimpanan Mikrobiologi InaCC LIPI. Dengan kunjungan ini peserta diharapkan melihat langsung bisnis proses InaCC serta upaya InaCC dalam menjaga keanekaragaman hayati. (.adh)